Showing posts with label jalanjalan. Show all posts
Showing posts with label jalanjalan. Show all posts

Thursday, April 11, 2013

A Little Adventure In The Middle of Hectic Day




Long Weekend
Kata yang di nanti para karyawan seumuran saya.
Tapi saya bukan karyawan, dan saya tidak mengalami kesibukan apapun selain kesibukan rumah tangga (yang anginanginan tentunya).

Long Weekend akhir bulan lalu menjadi ajang bersenangsenang bagi saya dan beberapa teman saya.
Rencana sudah matang sejak sebulan sebelumnya.  Rencana awalnya sih reuni SD angkatan kami. Tapi ternyata, dari sekitar 60an undangan, hanya beberapa gelintir orang saja yang berminat. Cuma 7 orang saja. Entah yang lain pada kemana.

Sebelumnya, reuni sudah sering diadakan. Tapi kali ini acara reuni dibuat sekaligus sambil berlibur. Mmm... sepertinya ini bisa dibilang "kedok" buat para EO alias tementemen yang lagi suntuk dan bosan sama pekerjaan mereka. Hahahaa... Usut punya usut, ketika "meeting" emang betul begitulah alasannya. Ada yang bosan nganggur (saya), ada yang lagi galau nunggu panggilan kerja, ada yang haus backpacking, ada yang sumpek sama kerjaan. Sepertinya macemmacem deh.

Bertujuh saja, menyatukan idealisme kami saja sudah cukup susah yah.. apalagi ber60.. pasti ada yang kepikiran anakanaknya, ato bahkan membawa anakanaknya?? I just can't imagine! hahaha

Kamis malam, kami mendapat warning message dari mbak EO kami untuk siapsiap besok pagi. Jumat pagi kami siap meluncur meskipun ngaret 2 jam dari jadwal semula. Cuaca sedang galau. Jalanan juga sedang macet. Kota Malang tujuan kami. Malang, tempat yang tidak asing bagi kami. Mudah dijangkau dan diperhitungkan. Tapi ini adalah sebuah awal bagi kami. Rafting.  

Tujuan awal trip kami adalah Kebun Teh Wonosari, Pantai Goa Cina dan K-Land Adventure. Tapi, cuaca tidak bersahabat. Dari Masjid Cheng Ho Pasuruan, kami melanjutkan perjalanan ke Kebun Teh Wonosari. Jalanan macet! Perjalanan yang semestinya bisa ditempuh 30 menit, jadi molor sejam. Halah.

Setiba di kawasan kebun teh, kami masuk membeli karcis. Dihitung perorang. "Biar gampang kembaliannya", begitu si penjaga loket bilang, semobil yang berisi 8 orang dihitung sejumlah 7 orang dengan harga Rp 80.000. Setelah parkir mobil, kabut turun dan kemudian, HUJAN! What a great!! hahahaha

Kami tidak jadi jalanjalan dan fotofoto, malah nebeng berteduh di penginapan orang. Hahaha... delapanpuluhribuberasamelayangbegitusaja. hahahaha
Melihat cuaca yang memang tidak bersahabat, kami membatalkan rencana ke pantai, lalu lanjut ke penginapan yang sudah di booking oleh mbak EO, temen saya sendiri. perjalanannya cukup jauh. Berangkat dari Wonosari sekitar pukul 16.30 tiba di penginapan sekitar pukul 22.00. Tentu ini disebabkan karena macet, hujan dan track jalanan yang berada di kaki gunung bersebelahan dengan jurang. Ditengah perjalanan itu kami juga menyempatkan untuk menghangatkan diri dan makan malam sambil menyeduh kopi di pujasera pinggir jalan. Meskipun baksonya kurang "Malang", yasudahlah, yang penting kenyang dulu. Hehehe..

Setiba di penginapan, saya sudah tidak kuat melanjutkan bercandaan. Saya memilih tidur, sedangkan para lelaki memilih menghabiskan malam sambil bermain poker. Saya kumpulkan tenaga saja untuk rafting besok pagi. Hehe..

K-Land Adventure berada di desa Kasembon kabupaten Malang. Ia berada di area pegunungan. Tapi entah kenapa cuacanya tidak seberapa dingin. Tapi mata kami termanjakan oleh sawah di sekeliling penginapan kami.

Selesai rafting, ada kenangkenangan sementara di muka saya. Muka saya bopeng karena luka. Entah kenapa hidung saya memar menghitam, entahlah terhantam apa waktu rafting tadi. Masih ada sedikit lecet di hidung, kelopak mata dan dahi saya. Kenapa juga hanya saya saja yang mengalaminya, sedangkan temanteman yang lain tidak mengalaminya. Jadi bahan tertawaan juga karena muka saya belepotan betadine. Hehehe

Hari Sabtu pukul 2 siang kami beranjak dari penginapan. Pintu bagasi mobil rusak sedangkan gerimis mulai 'say hi'. o'ooww... Susah payah teman kami yang ahli mesin itu membetulkan akhirnya berhasil juga. Perjalanan pulang pun dilanjutkan melewati Mojokerto, menelusuri jalan kecil desadesa. Perut lapar, kami mampir nyemil sejenak di alunalun Mojokerto. Kemudian perjalanan dilanjutkan lagi ke Surabaya untuk mengantar pulang Pacar teman saya (yang tentunya bukan alumni SD kami). Ada dia, beban sopir jadi 3 orang bergantian. Hehehe.. Trimikiciii.... :)

Liburan singkat yang sangat berkesan!! bersama temanteman masa kecil, lalu tertawa dan menyanyi menghabiskan suara di perjalanan. Tapi sakit batuk saya malah sembuh loh.. hahaha


Kami yang sedang nebeng berteduh di penginapan orang ketika di Kebun Teh Wonosari

Sunday, May 6, 2012

Ampel Malam Ini

Malam ini saya baru pulang dari Ampel.
Ya. Ampel!
Mungkin terkesan 'kebangetan', lama tinggal di Kota Pahlawan ini, tapi gak pernah menjajaki daerah Kampung Arab, Ampel. Bukan tidak pernah, pernah, tapi dulu banget. Waktu saya masih kelas 6 SD. Sudah 10 tahun yang lalu. lama sekali. saya sudah hampir lupa.

Sedang sebal membaca buku yang meng-imingiming-i saya untuk pergi, seketika saya langsung pergi. Tanpa arah dan tujuan, siang tadi saya berkeliling kota Surabaya dengan mengendarai motor saya. Cuaca siang tadi mendung. Tapi saya tetap melaju.
Lelah di jalan, saya memutuskan untuk ke toko buku saja. Sudah memilih buku, perut saya lapar.
Saya memutuskan untuk kembali ke kost saya dulu, di ITS, hendak mengganggu temanteman yang sedang TA. hahaha...

Melihat mereka tidak sedang mengerjakan laporan, saya pikir saya ajak saja ke Ampel. Mereka menyambut bahagia. Saya pun tersenyum lebar. Dengan segera kami lajukan motor kami ke arah Surabaya Utara. Sebelum berangkat, temanteman meminjamkan saya jilbab dan memakaikannya. Tapi bukan berarti saya tidak bisa memakainya ya.. Tujuan menggunakan jilbab ini untuk menghormati budaya masyarakat Ampel yang kental dengan Islam, para wanita dianjurkan menggunakan Jilbab. Ada pula yang mengatakan, bagi para wanita yang tidak mengenakan jilbab, dilarang memasuki kawasan Makam Sunan Ampel. Tidak ingin mengambil resiko, saya memilih menggnakan jilbab yang ternyata membuat saya makin cantik! #eh


Wednesday, April 11, 2012

Manis!



"loh... kok yang ini sih?? yang lantai bawahnya.... bukan yang inii... coba aku liat... nah... yang itu..." sambil senyumsenyum. "Wah, kamu salah layout ya sayang? hahahaha.... bikin lagi deh dari awal....hahaha..."

Ah, si nyonya bos ini yaa.... kan kemarin Miss bilang study room... selalu tagih study room..bukan home office, maam.... Gosh!! Saya ngakak gak berhenti... Temanteman juga ngakak. Ini karena otak saya atau karena kebanyakan proyek yah?? Entahlah... tapi saya tertawa lepas sore ini.

Sepulang kerja, ponsel saya ber'tungtingtungting' ria.






  

 

what a great night!!

You also can find the magazine here


 "Local people is your lonely planet"

 :)

Saturday, January 7, 2012

Madura dan Senyumnya



"wohoooo.....!!!"


Begitu teriak saya ketika saya dan motor saya sudah menginjakkan tanah Madura. Ya, Madura. Akhirnya tersampaikan juga keinginan saya untuk melakukan perjalanan ke Madura. Ini adalah dampak ‘kecanduan’ saya akibat kemarin berhasil melakukan perjalanan dari tanah orang ke tanah orang. Ya, dari Jogjakarta ke Magelang kembali lagi ke Jogjakarta, malam hari. Beruntung ada Jembatan Suramadu yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura yang bisa ditempuh selama ±10 menit saja, tidak perlu berlamalama menyeberang menggunakan ferry dan tidak perlu mengeluarkan kocek terlalu dalam, cukup dengan tiga ribu rupiah saja untuk melewati tol Suramadu.

Perjalanan dimulai dari rumah teman saya. Rencana keberangkatan jam 5 pagi harus batal karena cuaca di sekitar gerimis. Gerimis reda mulai pukul 5.45 waktu teman saya. Bekal sudah siap, tinggal berangkat. Kami berangkat, isi bensin, dan bayar tol. Suramadu.. perjalanan yang cukup panjang untuk melawan angin kencang di atas jembatan. Tapi perjalanan begitu menyenangkan karena cuaca juga cukup mendukung. Tidak panas, tidak pula hujan, tapi mendung. Teman saya mengingatkan saya untuk sholawat daripada berteriakteriak. Hehe..

Ng… teman saya ini perempuan. Ya, kami berdua perempuan yang akan melakukan perjalanan panjang menuju Kota Sumenep, Madura dengan mengendarai motor. Ya, berdua saja. Memang banyak yang gelenggeleng kepala melihat ulah kami. Tapi itu lebih baik daripada saya sendirian to? Hehe..

Madura itu.. Hijau! Begitu yang saya tangkap. Sepanjang perjalanan, saya mendapati hamparan sawah dan hutan yang masih hijau. Indah, sejuk! Hm… Sejuk? Mungkin karena cuacanya memang sedang bersahabat, tidak terlalu panas dan tidak terlalu mendung. Karena kata teman saya dari Madura, Madura itu panas, karena jalanan utamanya berada di pesisir pantai. Jalanan Madura tidak selebar jalanan di Kota Surabaya ataupun Gresik. Kotanya juga kecil. Harus mengalah bila berpapasan dengan truk. Jalan utama di pulau pemilik Karapan Sapi ini hanya satu, dan jalan itulah yang menghubungkan kota Blega, Sampang, Pamekasan dan Sumenep di jalur selatannya. Bila diteruskan bisa mengikuti jalanan jalur utara. Tapi, menuju ke Sumenep saja saya pikir sudah sesuatu, mengingat Sumenep adalah kota paling Timur di Madura.


Sepanjang perjalanan masih ditemani hamparan sawah dan hutan hijau. Rumahrumah penduduk di pinggir jalan luasnya hanya beberapa ratus meter saja. Sesekali melewati pasar yang cukup padat. Pasar Tanah Merah, pasar Blega, Pasar Camplong. Tak hentihentinya saya dan teman saya mengucapkan Subhanallah.. Madura begitu hijau! Tapi bisa jadi karena musim hujan sehingga tanaman tumbuh subur, tapi bisa jadi begitu kering ketika musim panas. Melewati kota Sampang disuguhi birunya laut.

“Woowww… woowww… apiiikkkk!!!” begitu teriak teman saya. Saya juga.

Dua jam sudah kami diperjalanan. Pukul delapan pagi, tapi saya masih mengendarai motor. Sesekali benak saya memikirkan, “masih jauh ini..masih 2 jam lagi sampai ke Sumenep.. ah.. aku menikmatinya!” Suguhan pantai di Sampang, dan hutan bakau serta pohon kelapanya begitu memanjakan mata. Bibir saya tidak berhenti tersungging di balik scraff. Saya senang! Saya senang dengan perjalanan saya ini, saya berharap bisa melakukan perjalanan seperti ini lagi ke kota lainnya.

“Selamat Datang di Kota Pamekasan”, papan itu terpampang besar di jalan. Kami berteriak lagi. Ya, terlalu heboh memang. Tapi ini memang kami. Haha..
“Wow!! Pamekasan!!! Yeesss….!! Habis Pamekasan, trus Sumenep..!!”
“Ya!!”
“Ya, tapi berapa kilo lagi juga gak tau.. hahaha….”Oke.
Kami memang menikmati perjalanan panjang ini. Kentungan di perut kami tibatiba berbunyi. Lapar, kami mau sarapan. Setiba di Kota Pamekasan, kami memutuskan untuk sarapan. Jam saya menunjukkan pukul 8.30 pagi. Sambil menunggu pesanan datang, saya mengirim pesan pendek kepada seorang teman yang akan menjadi guide kami di Sumenep. Kami segera makan, lalu segera beranjak. Sebelum pergi, saya memilih bertanya pada Ibu penjual soto ayam itu, si Ibu memberikan petunjuk, lalu kami pergi. Sempat nyasar dan salah arah, tapi syukurlah tidak jauh. Sempat pula ikut masuk ke dalam arus operasi polisi, tapi kami beruntung jadi ada yang ditanyai. Mengikuti apa kata si Bapak Polisi, kami melakukan perjalanan lagi.

Masih disuguhi dengan hamparan hijau sawah dan hutan, jalanan seperti milik kami. Ah, tidak juga. Hanya saja memang terasa sepi. Mungkin karena hari itu hari libur cuti bersama setelah natal, banyak orang bepergian atau mungkin hanya di rumah saja malas keluar. Sayang sekali saya yang suka jepratjepret meskipun hasilnya jelek, sedang memegang kendali motor, jadi tangan saya tidak bisa menjepret apa yang saya suka. Teman saya juga tidak berani untuk memegang kamera pocket saya, takut jatuh katanya. Yasudahlah, cukup saya rekam melalui mata saya dan saya simpan di ingatan saya saja.

“Sumenep-Sumekar”. Memasuki kota Sumenep. Merentangkan tangan, menikmati udara Sumenep. Masih dengan hutannya yang hijau. Dengan sabar kami melewati jalanannya. Sejam kemudian kami tiba di pusat Kota Sumenep, alunalun Sumenep, kami langsung menuju ke Keraton yang tak jauh dari alunalun. Disana kami bertemu dengan teman saya. Dia yang menjadi guide kami di Sumenep untuk beberapa jam kedepan.

Keraton sedang ramai, biasanya tidak seramai saat itu. Kata teman saya begitu. Keraton Madura tidak kalah bagusnya dengan Keraton Jogjakarta. Sayangnya, beberapa peninggalan Keraton Madura ini tidak dirawat. Contohnya saja pakaian Keraton yang semestinya bisa dipajang di manekin dengan replika pakaiannya seperti di Keraton Jogja, tapi pakaian ini malah lusuh, terlipat rapi namun robekrobek di dalam etalase kaca dengan warna yang mulai memudar dan kusam. Mungkin karena Keraton Sumenep ini sudah berhenti sejak tahun 1900 dan hanya dijalankan oleh Bupati bila ada event tertentu saja. Sedangkan Keraton Jogja masih beroperasi hingga saat ini.
Labang Misem, yang berarti Pintu Senyum, merupakan pintu gerbang Keraton Sumenep.


Ruangan ini masih digunakan untuk event tertentu oleh Bupati setempat.
Furnitur dan kolomnya begitu detail, masih khas dengan Majapahit sebagai Kerajaan utamanya.





Lorong menuju bangunan utama Keraton.
Detail arsitekturnya begitu indah! Keramik di tengah lorong seolah menujukkan bahwa Sumenep ini merupakan wilayah yang juga dihuni oleh para pendatang dari beberapa daerah, China misalnya. Karena Keraton Sumenep ini juga merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit.
Salah satu teras dari bagian utama Keraton.
Jendela tersebut menghubungkan langsung dengan salah satu ruang kamar dalam Keraton.
Ini kamar yang saya maksud. Detail dari tiap furniturnya begitu indah. Sayangnya, bagian dalam bangunan utama ini tidak dibuka untuk umum, tapi kami masih bisa melihat isi kamar melalui jendela. :D
Kamar lainnya.
Setiap detail ornamen di Keraton Sumenep ini tidak jauh berbeda dengan detail ornamen asal Jawa. Karena wilayah Jawa, terutama Jogjakarta, dan Sumenep dulunya merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit sehingga memiliki beberapa kesamaan dalam sentuhan seni yang diterapkan pada perabotnya.
Hmm.. begitulah kurang lebih analisa saya sebagai lulusan mahasiswa desain interior.. haha.. semoga tidak salah.
Keraton ini cukup sejuk, mengingat anginnya yang datang dari tanaman sekitar dan juga pohon beringin tua yang berada di sebelah bangunan Keraton. Namun, saya dan teman saya merasa ada yang berbeda ketika kami melihat kedua ruang kamar melalui jendela terbuka yang disediakan untuk dilihat para pengunjung. Angin yang kami rasakan lebih sejuk dari dalam ruangan daripada luar ruangan, padahal di dalam ruang kamar tersebut tidak terdapat pendingin ruangan sama sekali.

Mistis dan aneh kata teman saya, anginnya 'dingin'. Namun, menurut saya itu lebih karena karakter bangunan tua Keraton yang memiliki plafon yang yang cukup tinggi dan dinding yang cukup tebal. Selain itu, karena adanya perputaran angin dari dalam bangunan yang saya yakin masih terdapat halaman di bagian dalam Keraton tersebut dan terdapat berbagai macam tanaman rindang. Sayangnya saya tidak bisa membuktikannya secara langsung karena peraturan akses untuk para pengunjung.
Pintu ini merupakan akses memasuki ruangan utama Keraton. Pintu ini juga merupakan batas antara area pengunjung dengan area private Keraton. Megah dan indah!
Arca ini berada di salah satu bagian dalam bangunan Keraton
Mmm.. kalo dalam bahasa Jawa, yang seperti ini namanya Gebyok, biasanya ada di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Kalo di Madura namanya saya kurang tahu. :P Pintu ini merupakan akses masuk menuju salah satu museum yang berada di dalam komplek keraton, dimana di dalamnya berisi perabot rumah tangga pada masa Kerajaan Sumenep berjaya.
Di dalam bangunan ini terdapat lonceng.Di belakang bangunan ini terdapat sebuah pohon beringin yang cukup besar,usianya sepertinya sudah sangatsangat tua :P
Mimbar ini terdapat di Pendopo Keraton, terdapat lambang Kota Sumenep, yaitu kuda bersayap. Konon, kuda bersayap dipercaya masyarakat setempat memang ada dan merupakan kuda tunggangan Jokotole.


Setelah mengitari bangunan utama Keraton, kami memasuki Taman Sare yang dulunya merupakan tempat pemandian bagi para Puteri Raja.

Kemudian kami memilih keluar dari komplek utama keraton, dan memasuki Museum Keraton yang terdapat di seberangnya.
Beberapa diantara isi Museum Keraton Sumenep. Gambar pojok kanan atas merupakan alat musik yang digunakan pada masa itu. Alat musiknya tidak jauh berbeda dengan Keraton Jogjakarta, karena masih samasama dari Kerajaan Majapahit.
Kereta yang terdapat di Museum. Kereta ini dibuat dari Inggris. Diameter rodanya mengalahkan tinggi teman saya! :P
Ranjang di dalam Museum Keraton Sumenep beserta detailnya.

Keluar dari keraton, kami memilih pergi makan siang, mencicipi salah satu makanan khas Madura. Salah satu saja, waktu kami mepet kalau banyakbanyak. Rujak Cingur khas Madura. Kota Surabaya juga memiliki makanan khas Rujak Cingur, tapi kami penasaran dengan makanan ini versi Madura. Ternyata Rujak Cingur di Madura memiliki versi yang berbedabeda, Rujak Cingur di Kota Pamekasan dan Sumenep itu berbeda rasanya. Teman saya bilang Rujak Cingur di Sumenep menggunakan sedikit cuka, sedangkan di Pamekasan tidak.
Rujak Cingur Khas Madura - Sumenep. Enak!
Rasanya memang jauh berbeda dengan Rujak Cingur Surabaya. Rasa petis rujak cingur Surabaya memang lebih ‘nendang’ daripada Rujak Cingur Madura. Tapi makanan ini begitu bersahabat di lidah saya. Bumbu kacangnya begitu terasa. Isi makanan dibalik bumbunya ada lontong, singkong, keripik singkong, sayur kangkung, ketimun dan tentu saja cingurnya!Selesai makan kami bergegas ke tujuan selanjutnya, Pantai Lombang (baca: Pantai Lombèng). Kata teman saya perjalanan menuju pantai Lombang hanya 30 menit. Perjalanan pun dimulai. melewati tracking yang cukup terjal (ehm, lebay). Jalanan menuju sang pantai tidak begitu bagus dan becek. Sesekali saya teriak karena si ban motor harus melewati lubang jalan dan kubangan air. Perjalanan menuju pantai masih dengan khas Madura, hijau dan hijau. Adem!
Pintu masuk Pantai Lombang (Sumber : google.co.id)
Tiba juga di pantai. Disambut oleh pepohonan Cemara Udang. Rindang dan teduh. Berjalan lagi dan saya akhirnya melihat bibir pulau.. Pantai! Pantai Lombang ini ombaknya tidak seseram pantai yang sering kita lihat. Pantai Lombang ombaknya cukup tenang, dan worth it lah untuk bermainmain. Di Pantai Lombang disediakan penyewaan kuda untuk mengelilingi pantai. Tapi (lagilagi) kami terlalu menikmati bermainmain di pantai. Sekedar saling mengolok, bercerita, bermain air, dan berfotoria.
Pantai yang tenang dan menyenangkan
Saat itu cuacanya memang sedang bersahabat. Tidak terlalu panas dan menyenangkan untuk bermaianmain saat liburan.
not the best shoot of all, but I was happy to be there :)
kami bermainmain :P
Beginilah hijaunya Madura saat itu..
Hijaunya memang benarbenar menyegarkan mata.

Ah, sayang sekali waktu kami singkat. Temanteman baik dari Sumenep masih ingin membawa kami mengelilingi Madura, tapi saya dan teman saya harus pulang.
"Sudahlah, besok bolos kerja saja... sehari lagi... aku bawa kalian ke Pantai Slopeng, ke gua yang bagus, Asta Tinggi, dan ke tempat-tempat menarik lainnya.."
"Ah.. sayang sekali... kami tidak bisa..."
Ya, saya jadi punya hutang untuk sekali lagi mendatangi Madura. Masih ada Pantai Slopeng yang ingin sekali temanteman Sumenep ajak kami pergi kesana, wisata gua-entah apa namanya, Asta Tinggi, dan saya yakin masih ada beberapa tempat lainnya. Sebelum kami keluar dari pantai, kami masih mampir untuk makan Rujak Cingur Madura lagi. Hehe..Jam tangan saya menunjukkan pukul 16.45. Kami bergegas pergi setelah perpisahan yang diberatkan temanteman Madura. Mereka ingin kami menetap semalam di sana, karena cuaca mendung dan gerimis. Benarlah adanya, kami melakukan perjalanan pulang selama ± 4 jam malam hari (tentu ini juga dikhawatirkan oleh temanteman saya) dan dibawah guyuran hujan! Yap, sepanjang perjalanan Madura-Surabaya dibawah guyuran hujan dan malam hari. Benarbenar menyeramkan namun menyenangkan! Saya masih mau melakukan perjalanan yang semacam ini, naik motor dan jauh, tapi entah teman saya. Haha..

Tiba di Kota Surabaya setalah melewati Jembatan Suramadu, melawan hujan yang cukup deras dan angin yang cukup kencang di atas sang jembatan, pukul sembilan malam. Hmm... tangan kami berkerut karena basah, kami menggigil kedinginan, seketika teman saya flu. Kami memilih segera mencari makan malam, meskipun akhirnya kami memilih bawa pulang. Tapi bebek goreng dari Surabaya memang maknyus, ditambah lagi dengan nasinya yang masih hangat, jadi cukup menghangatkan badan kami yang kedinginan.

Ah, Madura.. Saya mau kalo kesana lagi.. Hehe..
Tapi nanti ya..
Saya masih ingin ke tempattempat menarik lainnya..

That was a great experience!! Haha..

Terima kasih, Alhamdulillah.. :)

Wednesday, November 9, 2011

challenging my self

Entah saya harus bercerita di sini atau tidak. Tapi rasanya saya ingin mengekspresikannya saja.

Anyway, saya bukan seorang backpacker bahkan traveler seperti mereka. Saya cuma seorang pemimpi yang terkungkung di bawah atap agar terhindar dari panas dan hujan. Kali ini saya hanya ingin merekam ulang perjalanan saya beberapa waktu lalu melalui tulisan. Sayangnya saya bukan fotografer ataupun semacamnya untuk mengabadikan gambar. Esensi dari perjalanan kali ini adalah mengukur kemampuan saya ketika menghadapi dunia luar sendirian. Mm.. tapi tidak sedrastis yang anda bayangkan. Maklumlah ya.. anak kemaren sore.. :P

Dua minggu lalu, saya nekat bepergian sendiri ke kota Jogjakarta. sendiri?? tidak juga. masih terlalu nekat untuk saya pergi sendirian. Yap, untuk ukuran anak manja seperti saya. Tapi beribu terima kasih untuk bapak dan ibu yang mengijinkan saya bepergian sendiri ke Jogja.

Kenapa Jogja? Untuk pemula seperti saya, saya memilih kota ini karena saya sudah familiar. Cari aman dulu lah.. Hehe apalagi dengan isi dompet yang cukup miris, Jogja recommended lah untuk yang iritirit.

Tujuan utama ke Jogja adalah merasakan euforia Jogja Java Carnival 2011. Ini merupakan imbas balas dendam akibat tidak berhasilnya saya menyaksikan Jember Fashion Carnival 2011 lalu karena sibuknya mengurus administrasi kampus yang njlimet. Selain itu, ini mungkin jadi kesempatan terakhir saya sebelum sibuk berkutat dengan karir (agak miris ngetiknya), jadi saya mau puaspuaskan liburan-maksa saya.

Perjalanan dipersiapkan dua hari sebelumnya dengan membeli tiket kereta kelas ekonomi dan mempersiapkan barangbarang yang dibawa sesuai kebutuhan saja. Jumat, 21 oktober jam 5 pagi saya berangkat ke stasiun diantar oleh teman sekost. Saya bersama teman kost yang akan menempuh perjalan pulang kampung ke Madiun sudah tiba di stasiun dan siap menaiki kereta. Tiket kereta menunjukkan keberangkatan pukul 6 pagi, tapi kereta tak kunjung berangkat. pukul 6.25 barulah kereta berangkat. Ini adalah pertama kalinya saya naik kereta ekonomi dan sendirian. Tidak sendirian, tapi bersama seorang teman yang menemani setengah perjalanan saya menuju Jogja. Merasakan naik kereta ekonomi (sebelumnya cuma sekali naik kereta bisnis), dimana selalu ada penjual makanan dan barangbarang-apa-saja yang dijajakan kepada para penumpang, berhenti hampir disetiap stasiun, panas. Untungnya tidak ada asap rokok. :)

Di kost, teman saya ini selalu bercerita tentang perjalanan dia pulang kampung ke Madiun dimana dia menemui berbagai macam orang tentunya. Orang yang duduk di sebelahnya, di seberangnya, dan seliweran orangorang yang lewat. Ia bertemu dengan bapak dosen jurusan lain dari kampus yang sama, ITS, yang kemudian mengajaknya sharing seputar pendidikan dan sebagainya. Dimana ia terdiam dan terhenyak oleh pemandangan yang cukup asing dan menggelikan, melihat sepasang homoseksual dikursi seberang. Dan masih banyak pengalaman lainnya. Dan saya juga ingin merasakan seperti yang dia rasakan. Akhirnya saya naik kereta untuk perjalanan yang cukup jauh. Mmm..tentunya masih ada yang lebih jauh dari perjalanan ini. Ternyata kursi di depan kami kosong, teman saya memilih duduk berhadaphadapan dengan saya agar lebih nyaman mengobrol. Tapi kemudian teman saya tertidur, saya memilih menikmati perjalanan saat itu.

2 jam perjalanan, teman saya masih tertidur di depan saya. Tibatiba seorang bapak paruh baya menanyakan kepemilikan kursi kosong disebelah saya. Karena si kursi tak berpenguni, si bapak meminta ijin duduk di kursi tersebut. Kemudian si bapak mulai bertanyatanya dan berceritacerita. Sedikit risih memang karena posisi si bapak yang agak aneh bila mengajak saya mengobrol. Kemudian teman saya terbangun dari tidurnya dan kami mengobrol bertiga. Si Bapak tidak hanya bercerita tapi juga ‘ceramah’. “Tahukah kalian surat apa ayat berapa dalam Al-Quran yang menjelaskan tentang bla bla bla...”. Saat itu saya dan teman saya berpikir bapak ini adalah ustadz, tapi kok ‘begini’ ya? Setengah jam saja teman saya bangun, lalu ia tidur lagi dan saya harus mendengarkan ceramah si Bapak sendirian. Baiklah pak...lalu apakah saya akan menghabiskan sisa waktu perjalanan saya ke Jogja bersama Anda berdua?? Kumohon siapapun, duduklah dikursi depan saya, tapi jangan perokok.

Stasiun Madiun, teman saya turun, berpamitan pada saya dan si Bapak. Saya sedih, takut, gugup. Perjalanan ini saya tempuh sendirian! Tidak apa Lusy, kau harus berani! Pikir saya. “Hati-hati di jalan ya Nak, salam buat keluarga dirumah”. “Iya, Pak.. mari.. Assalamualaikum”. Kemudian si Bapak melanjutkan, “Sebagai perempuan muslim, berjilbablah. Perempuan yang menggunakan jilbab, pasti lebih cepat menikah”. *straight face*

10 menit.. Kereta masih diam. Si Bapak yang tadinya kebelakang meninggalkan jaket di kursi saya. Saya harus bagaimana lagi untuk perjalanan 3 jam selanjutnya menuju Jogja. Si Bapak kembali, diikuti oleh istrinya yang kemudian duduk tepat di kursi depan saya. Alhamdulillah.. hehehe

15 menit.. belum ada tandatanda kereta mau berangkat. Segerombolan remaja di kursi seberang saya mulai misuhmisuh. Si Ibu sudah mulai kegerahan. Tidak lama kemudian kereta mulai bergerak. Teman saya masih mengkhawatirkan saya, ia menemani saya melalui chatting. Begitu mengtahui si ibu ternyata baik hati, ia memilih bercengkrama dengan ibunya dirumah, ia meninggalkan saya. Pikiran saya yang tadinya buruk terhadap si bapak berubah baik ketika si ibu juga mengajak saya mengobrol dan menawarkan saya kue. Kue tradisional turunan tiong hoa Surabaya yang mulai langka. Mm, Bapak dan Ibu ini asli Jawa namun penyuka kue yang dijual di Pasar Atom. Rasa kacang hijau yang enak, tekstur tepung-entah apa namanya- yang kasar namun benarbenar tradisional. Sayang sekali saya lupa namanya. Hehe..

Perjalanan yang panas, pedagang yang cukup mengganggu. Melewati Klaten, kemudian Delanggu. Tempat dimana bapak saya pernah dibesarkan, dimana sanak saudara berkumpul. Saya menikmati perjalanan saat itu diatas kereta, karena sebelumnya saya menikmatinya diatas mobil, atau bis bahkan motor. Sejam lagi tiba di Lempuyangan.

Jogja merupakan salah satu kota dengan budayanya yang cukup kental.Entahmengapa selalu ada magnet yang membuat saya ingin kembali kesana. Sayangnya, jalanan Jogja sudah tidak memegang adat budaya lagi. Terlalu banyak plakat, baliho dan temantemannya di jalanan Kota Jogjakarta. Sedih. (Maaf tidak ada foto terkait :P).

30 menit sebelum turun dari kereta. Saya mengirim sms ke Tante saya. Ia akan menjemput saya di depan Lempuyangan. Tante yang belum pernah saya tahu wajahnya, tapi kami sudah dekat sekali. Saudara jauh, tapi cukup dekat. Tante yang gaul, melebihi saya. Tante yang heboh melihat saya melebihi ekspresi saya. Hahaha... Dibawalah saya makan siang di kawasan UGM, bercengkrama, bercanda. Menyenangkan. Pertemuan pertama dengan Tante Ayu yang mengesankan.

Di rumah Tante saya berkenalan dengan anak keduanya yang sebaya dengan saya, kemudian anak pertamanya yang sebaya dengan kakak saya, keponakan Oom yang tinggal untuk kuliah disana juga, serta Oom yang seorang dosen. Suasana rumah yang hangat dan tenang. Tante saya memercayakan pada saya untuk mengendarai motor keliling Jogja, tapi saya masih belum berani, saya buta arah dan tak tahu jalanan Jogja.

Sabtu. Setelah percakapan semalam sebelum tidur, anak tante yang cantik itu mengajak saya pergi jalanjalan mencari aksesoris di sebuah tempat di kawasan Malioboro. Berpanas-panas. Tidak mendapatkan sang aksesoris yang diinginkan, kami mencoba ke Mirota. Bukan aksesoris, tapi kami membeli baju yang sama. Hahahaha... beginilah wanita. Dan saudara saya itu membeli 2 baju! Batal beli aksesoris. Kami tertawa layaknya teman yang sudah sangat akrab. Memenuhi titipan ibu, kami ke Beringharjo. Juga masih dalam ragka mencari aksesoris, kami semakin masuk kedalam pasar. Dan kami tersesat di dalam pasar. Kami lupa jalan keluar. Hahaha...

Di Jogja saya berjanji akan bertemu dengan seorang teman lama, menemani saya melihat karnaval. Manusia memang bisa berencana, Tuhan-lah yang menentukan. Dan kami batal bertemu karena pekerjaan teman saya. Sekali lagi makna perjalanan sendiri saya kali ini adalah bertemunya dengan temanteman. Tanpa sengaja saya menyaksikan karnaval dengan seorang kakak tingkat kuliah yang sedang bekerja di Kota Gudeg tersebut. Teman yang baik. Sepulang dari melihat karnaval ia mengantar saya ke hotel tempat rombongan temanteman kos saya tinggal. Terlalu larut untuk pulang kerumah Tante, lebih baik saya tidur berjubel daripada merepotkan orangorang rumah.

Teman kost yang baik hati, merelakan tempat tidurmu untukku, sedangkan kau sedang butuh tempat yang lebih hangat. Semoga kau sehat selalu!

Kakak tingkat, apakah kau kurus disana karena aku? Semoga tidak. Sudah kuperingatkan kau untuk menggunakan taksi menempuh 8 km perjalanan ke kost mu daripada berjalan kaki. Terima kasih banyak! :)

Esok paginya saya memilih pulang untuk tidur. Memenuhi kebutuhan tidur saya yang tidak cukup untuk melanjutkan petualangan selanjutnya (hm, terlalu hiperbola, saya tidak pergi kemanamana). Menunggu dijemput Sang Tante, tapi cukup lama. Menahan lapar dan kantuk sambil menikmati jalanan Malioboro. Menyaksikan beragam orang lewat di depan saya, parkir motor, turis berlalulalang hingga bosan. Saya lapar sekali. Saya memilih ber-sms dengan temanteman saya, sembari melihat langkah kaki orangorang yang lewat didepan saya.

Saya melihat alas kaki mereka. Cewek.. cowok.. cewek dan cowok.. segerombolan cewek abg... turis.. keluarga kecil...uh, lucu sekali bayinya.. cewek lagi.. cowok cowok... turis lagi.. sms masuk, balas sms. Sendal cowok tapi kaki cewek sama sepatu cowok?? Tengok wajahnya Astagaaa teman kampus!!!

2 jam penantian saya di Malioboro sepanjang pagi serasa terobati. Saya bertemu dengan dua teman kampus. Rasa rindu saya seperti terobati. Entah apa yang saya rindukan. Kami bercengkrama, mengolokolok seperti ketika masih kuliah, berteriak, dan berjanji akan jalanjalan bersama sore nanti. Jemputan saya sudah datang. Lalu saya pulang. Di rumah saya memilih segera tidur samarsamar membalas sms temanteman.

Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Saya segera bergegas kembali ke Malioboro untuk memenuhi janji bersama temanteman saya. Saya beranikan diri menerima tawaran tante untuk mengendarai motor. Ini juga agar saya tidak merepotkan keluarga tante. Saya segera berangkat dibantu dengan penjelasan anak perempuan tante yang cantik. Sudah saya duga, sekaliduakali memang tidak cukup untuk mengenal jalanan Kota Jogja, terlalu banyak persimpangan. Belum lagi mereka mengenalkan saya di jalan tikus. Setidaknya pengalaman nyasar bisa menjadi pelajaran berharga untuk mengenal jalanan utama Kota Jogja. Nyasar yang cukup lama dan hampir membuat saya desperate. Dan nyali saya terlalu ciut untuk bertanya pada orangorang. Ah, katanya mau ngukur sejauh mana keberanian saya, tapi kok malu tanya? Udah tau malu bertanya sesat di jalan, sampe taun depan gak nemu jalan pulan deh lu!

Baik, saya harus bertanya. Dan sorang mas tukang parkir yang ramah menunjukkan kepada saya jalanan menuju Malioboro. Hampir sampai dan saya masih salah jalan! Putar balik saja, lalu ikuti jalanan menuju Malioboro. Parkir dan mendatagi hotel tempat teman saya menginap. Lalu tujuan utama kami adalah makan siang. Sudah lapar sekali.

Senang. Itu yang saya rasakan ketika saya bisa mengobrol banyak dengan teman yang lama tak dijumpai. Apalagi ketika saya berada sendirian di kota orang. Bercerita dan bersendagurau sepanjang jalanan Malioboro menuju Cafe di Mirota. Dicium badan becak, papasan dengan kuda, mengalah pada badan dokar. Sabar ya teman, perjalanan ke Mirota memang agak jauh, tapi saya tahu kamu tahan dengan kruk mu, dan apakah kau perlu ku gandeng? Hahaha... kami tiba dan segera memesan makanan. Masih bercanda dan temanteman saya mengajak saya menonton film. Hm, maaf ya teman, Bioskop itu terlalu murah untuk mendapatkan suasana mahal seperti liburan-maksa saya di Jogja ini. Mereka pergi menonton sendiri.

Di Mirota juga saya berjanji bertemu dengan seorang sahabat pena dari luar Pulau Jawa. Well, selamat datang kawan! Senang bisa bertemu denganmu! :) Memang –seperti kata mbak Syahrini- sesuatu banget bisa bertemu dengan seorang teman dari jauh yang juga kebetulan sedang berada di Jogja, mengingat saya juga punya sahabat pena dari luar Pulau Jawa juga dan kami sudah berteman selama 5 tahun lebih dan belum pernah bertemu sekalipun. :) Dan di Jogja ini saya bertemu teman lagi! :D

Sore itu saya habiskan waktu saya bersama teman-dari-Palembang. Menemaninya mencari oleholeh untuk keponakan tercinta dan kakaknya tersayang sembari mengobrol sepanjang Beringharjo dan Malioboro.Sudah maghrib, perjumpaan tak lama, di parkiran depan Benteng Vredeburg kami harus berpisah. Perjalanan menuju Kota Magelang cukup jauh, dia harus segera pulang agar tidak terlalu malam. Sepulang dari Malioboro seusai gerimis. Berbekal selembar peta cumacuma yang saya dapatkan dari Mirota, saya pulang mengendarai motor, dan syukurlah saya tidak nyasar. Saya pikir saya sudah bisa jalanjalan sendiri lagi di Kota Jogja ini.

Tante dan Oom menyambut kedatangan saya. Mereka tersenyum lebar melihat saya kembali dengan selamat. Tante, sampaikan saja pada Bapak dirumah, saya berani di Jogja ini. Hehehe.. Di kamar tante saya bercerita tentang hari itu. Mengalir layaknya sahabat dekat. Tante saya ini memang keren. Dia bahkan ingin memiliki baju baru anaknya yang baru saja dibeli bersama saya itu.

Senin. Saya masih ingin di Jogja. Tapi semalam ibu menyuruh saya segera pulang. Kata bapak dan ibu, tidak baik terlalu lama dirumah orang yang bukan saudara dekat. Sungkan. Tapi saya masih ingin di Jogja. Tante saya memilih menemani saya jalanjalan ke Keraton Jogja dan menunda peertemuan gerejanya. Tante, kau baik sekali. Peluk dan cium dari ponakanmu yang belel ini untukmu disana yaa. Muah! Tante saya ini memang istimewa. Beliau fotogenik melebihi saya. Saya memang bukan seorang fotogenik tentunya. Setiap kali beliau meminta foto, beliau pasti memasang kacamata hitamnya yang nyentrik. Satu sesi foto yang membuat saya terperangah, saya tidak pernah seedan tante saya ini kalo fotofoto. Padahal saya pikir saya sudah cukup gila.

(saya tidak perlu menunjukkan foto yang paling 'istimewa' :P)

Memasuki Museum Kareta Keraton. Kami tak hentihenti berdecak kagum pada kemegahan beberapa kereta. Mmm, terlalu mistis bila diceritakan. Hahaha. Terlalu terpanah pada tiap detailnya. Dan tentunya terlalu lama untuk turis domestik yang melihatlihat kereta dalam ruangan tersebut. Polah tingkah kami dalam ruangan mengundang kecemasan para guide yang menjaga ruangan museum. 4 rombongan turis domestik sudah lewat, namun kami masih terperangah dalam ruangan tersebut. Pak Guide datang dan menyadarkan kami. Kami tentu saja sangat sedang dalam keadaan sadar dan waras. Lalu begitu ringannya Pak Guide yang baik itu menceritakan beberapa ‘pengalaman’ turis, kereta dan kesakralannya.

(Kereta ini masih digunakan untuk membawa jenazah Sultan ke Pesarehan)


Sepulang dari Keraton, kami makan siang sambil mengobrol. Tante saya ini benarbenar spesial. Katakata nasehat Tante memang cukup menohok saya, dan saya mulai berpikir keras hingga detik ini karena ucapan tante.

Setiba di rumah, tawaran teman-dari-Palembang menantang nyali ciut saya lagi. Otak saya berpikir keras sepanjang touring di Keraton. Ini adalah kesempatan saya yang pengecut untuk mengukur sejauh mana keberanian saya menantang diri sendiri. Liburan sekaligus belajar. Lagipula mumpung saya punya teman di dekat sini, maksud saya mumpung teman saya sedang di Jawa dan di dekat sini, apa salahnya bila saya pergi sambil menantang diri saya sendiri? Selama itu bukanlah hal yang merugikan diri saya sendiri. Baiklah, saya nekat. Berbekal nasehat dari Sahabat saya, sms dari teman-dari-Palembang, jaket dan shawl hangat milik tante serta tentunya ijin dari tante tersayang, saya beranikan diri pergi ke Kota Magelang mengendarai motor. Periksa peta dari Mirota lagi, teliti melihat papan arah berwarna hijau di jalanan, saya beranikan diri saya pergi ke Kota Magelang sendirian. “Haha.. Gudlak yah..” begitu kata teman saya.

Di jalan, perut saya bergejolak. Mual. Perasaan senang, takut, khawatir, raguragu bercampur aduk. Tapi tangan saya masih menarik gas motor. Setelah saya hampir yakin tersesat, akhirnya saya bertemu dengan Gapura “SELAMAT DATANG DI JAWA TENGAH” dan saya tidak percaya bahwa saya berhasil pergi sendirian di kota orang untuk ke kota lain dengan mengendarai motor. Bila boleh saya mengekspresikan, mungkin saya sudah berteriak, lompatlompat, jogetjoget. Berlebihan. Saya berteriak di jalan tidak percaya saya bisa. Saya masih mengikuti jalanan yang besar itu. Ternyata hampir putus asa itu masih ada, kemanakah arah Muntilan? Sudah hampir sejam dijalan, tapi sepertinya saya belum menemukan pencerahan. Hari mulai gelap untuk melihat plakat arah. Saya memilih berhenti di pinggir jalan untuk membaca lagi sms teman saya. Baiklah, saya melaju lagi perlahanlahan. Petunjuk dari teman saya sudah di depan mata. Alangkah senangnya saya. Menunggu teman saya di tempat yang ditemtukan. Setelah bertemu dan saya berhasil mengekspresikan kesenangan saya, “ya, selamat ya lu udah nyampe Magelang naik motor malam-malam,sendirian, dan elu cewek. Perlu dicatat itu ya, elu cewek!” ya, begitulah. :) Teman saya sedang tidak beruntung. Ia tidak berhasil mendapatkan ijin memotret di Klenteng. Lalu kami memilih lesehan sekoteng untuk menghangatkan tubuh dan makan sate untuk perut yang kosong.

Menjelang pukul 9 malam. Teman saya mengantar saya pulang ke Jogja. Teman yang baik hati dan bertanggung jawab. Tidak mau melihat teman perempuannya yang pengecut ini terjadi apaapa. :) Kami berpisah di Ringroad. Entah kapan lagi kami akan bertemu. Ratusan kilometer jarak kami. LIFE IS AN ADVENTURE.

Dari Ringroad saya mengendarai motor sendirian menuju rumah tante. Ternyata memang Tuhan lah yang berkuasa membolakbalikkan hati manusia. Saya tidak percaya diri, dan saya nyasar lagi. Dan saat itu malam hari, sendirian, naik motor, di Kota Jogja. Saya bertanya pada mbakmbak cantik di perempatan. Ketemulah saya di jalan pulang! Tante saya menunggu saya dirumah. Saya melihat kantuk yang luar biasa di mata tante demi menunggu saya pulang. Maaf ya, tante. Tapi ponakanmu yang pengecut ini sangat berterimakasih padamu.

Pembicaraan matang semalam bersama tante membuat saya terbangun ketika subuh. Menyiapkan diri ke Stasiun Tugu untuk membeli tiket pulang ke Surabaya. Naik motor sendirian. Setelah sarapan, saya berangkat. Di jalan, otak liar saya bekerja. Saya masih ingin mengelilingi Jogjakarta. Mm, tidak. Saya perlu istirahat. Sembari menunggu Mirota buka untuk membeli sedikit oleholeh untuk adik tersayang di rumah, saya mencoba memberanikan diri mengikuti arah plakat menuju Parangtritis. Manut dengan arah, saya bertemu dengan tulisan “Selamat Datang di Kota Bantul”. Jalanan Bantul cukup sepi, jalannya hanya satu. Kanan kiri masih terdapat sawah dan beberapa kampung penduduk setempat. Saya masih melaju terus. Bertemu dengan kampus Institut Seni Indonesia – Jogjakarta. Teringat teman saya yang ingkar janji pada saya kemarin, dia sedang kuliah di kampus nyentrik itu. Kampus impian saya dulu. Dan masih ada teman lainnya. Tapi saya memilih tidak mengganggu mereka untuk menemui saya. Mereka sibuk tentunya.

1 km dari kampus ISI, otak sehat saya mulai bekerja. Bila saya mnegikuti jalanan Bantul ini, saya bisa tiba di Pantai Parangtritis. Namun, resikonya adalah saya akan kelelahan dan bisa saja saya telat pulang kerumah, mungkin tante akan ngomelngomel meskipun tante adalah orang yang sabar. Tau diri, saya putar balik motor kembali ke Malioboro menuju Mirota. Sedang malas nawar di Pasar Malioboro, dan saya tidak memerlukan banyak oleholeh, maka cukup ke Mirota saja.

Pukul 2 siang saya berangkat ke stasiun diantar tante. Meninggalkan janji pada saudara saya yang cantik itu untuk menemaninya jalanjalan di Surabaya, meninggalkan ucapan semangat untuk anak tante yang tampan yang akan menghadapi sidang dan meninggalkan salam untuk Oom dan keponakannya serta anak angkat tante yang baik hati itu.

Ini pertama kalinya saya benarbenar sendirian handak menaiki kereta. Tiket kereta sudah ditangan dan siap memasuki gerbong yang tertulis di tiket. Kursi saya terlalu mewah untuk harga tiket yang saya beli. Seorang bapak bertanya pada saya mengenai kursi yang saya duduki. Saya mendapati nomor kursi yang sama. Saya bertahan pada kursi. Tapi hati saya gelisah. Saya memilih keluar dan mencari petugas kereta. Bapak baik hati yang sedang menggendong anaknya menawarkan bantuan pada saya. Benar adanya, saya salah gerbong! Itu gerbong eksekutif dan tiket saya hanya kelas bisnis. Saya malu sama bapak yang tadi, saya pergi mencari gerbong saya lalu segera mencari tempat duduk saya. Seorang bapak sedang telpon sudah duduk di kursinya, bersebelahan dengan saya. Sepertinya akan menjadi perjalanan yang membosankan. Sendirian dan malam hari, tidak ada yang bisa saya nikmati selama perjalanan.

Menenangkan diri di kereta sendirian, saya mengirim sms ke semua temanteman yang saya temui selama di Jogja. Terima kasih karena sudah memberi pengalaman yang mengesankan bagi diri saya.

Pukul 16.00 Sancaka Sore berangkat dari Stasiun Tugu. 3 menit berhenti sejenak di Stasiun Solo Balapan. Dari dalam gerbong saya melihat sosok yang saya kenal. Seperti teman saya. Saya ikuti arahnya, dan ternyata dia masuk lagi ke gerbong yang sama dengan saya. Saya raguragu, apakah dia benar teman saya, maka saya mengirim sms ke teman saya tadi. Benar adanya kami berada di dalam gerbong yang sama. Saya bertemu teman lagi!! Yeah!! Tanpa pikir 2 kali, saya mendatanginya dan duduk di kursi sebelahnya yang kosong. Bercerita. Dia menyayangkan saya yang tidak menghubunginya selama di Jogja, padahal tadi pagi saya yang sedang iseng ke Bantul, dia sedang bersantai di kost. Kost yang tidak jauh dari Kampus ISI. Dia tentu bukan teman saya yang saya maksud ingkar janji, dia teman saya yang lainnya. Perjalanan kami samasama menuju Surabaya. Dia sedang survey demi tugas kuliah lapangan. Tempat ia survey berada di pusat kota Surabaya, maka ia pulang ke Surabaya. Percakapan berhenti sampai di Stasiun Madiun, saya kembali ke kursi saya.

Gelisah saya juga berkurang setelah saya yakin siapa yang akan menjemput saya di Stasiun Gubeng Surabaya nanti. Pukul 21.00 kereta berhenti di Stasiun Gubeng. Saya memilih dijemput untuk menghemat ongkos taksi. Lebih baik untuk traktir makan. Tapi saya merepotkan orang. Maaf ya gan, merepotkanmu. Tapi terimakasih banyak! Menunggunya datang sama dengan saya sudah tiba dikosan. Tidak apa, sambil melepas rindu pada teman baik saya yang sedang berjuang untuk Tugas Akhir nya, saya yakin dia pasti ingin mendengarkan cerita saya setelah saya tersenyum lebar saat bertemu dengannya.

Lapar.Ia menemani saya makan di restoran fastfood 24 jam dekat kampus. Tidak, saya makan sendirian.Saya bercerita banyak, dan dia seperti biasanya mendengarkan dengan baik. Ia berpesan agar tidak terlalu ketagihan backpacking, karena dia juga sudah mengalaminya. Hahaha... sepertinya kau perlu mengajakku pergi, gan! Memberinya semangat untuk berjuang dan menjajikannya nonton film yang sempat ditawarkan temanteman saya di Jogja kemaren. Temanteman kampus saya terlalu menghebohkan film ini memang, karena salah satu kru art directornya adalah adik tingkat kami di kampus. Mestakung! :)

Anyway, perjalanan saya kemaren memang tidak terlalu jauh, dan tidak pergi kemanamana. Saya masih terlalu pengecut untuk memberanikan diri. Tapi saya masih mau mencoba perjalanan ke kota lainnya. Sekali lagi, saya hanya sedang menantang diri saya sendiri.

Terima kasih untuk bapak dan ibu yang memercayakan saya. Tante dan keluarga yang memberikan tumpangan untuk saya tinggal dan pinjaman motornya. Temanteman yang membuat cerita saya jadi berkesan!

Sayang sekali, ternyata partisi di HDD saya error karena kesalahan saya. Video karnaval yang saya ambil susah payah berjubel kemaren harus ilang. :(

Tapi semua benarbenar berkesan bagi saya! :D