Sunday, June 3, 2012

4+

it like whispered to me ... so slowly...

when you accompany me to a painting gallery event
when you help me for a task about sketches
when we talk and laugh about nothing
when you are worried me that not eat yet
when you bring me around the city
 when you say thank you for a nothing snack
when you ask me so much thing and let me tell you so much nothing to say
when you ask me for a first ice cream
when you know how i do love chocolate
when you bring me a blackforest at a stretch night

when you ask me about us and let me tell you about nothing
when you think that nothing and i think i left something
 when you ask me to find a shoes for your family
when you help me to finished my injured task all night long
when we hide from all peoples
when you ask me who am i for you
when you bring me an ice cream to support my great task for a semester
when you never forget to say happy birthday on time
when you pick me up on the train station that night
when we promised to those leather jacket
 when you are worrying about me to be carefull on the way home
when you told me you are selfish and dumb
when so much thing happened
when I know you are happy now
suddenly



when I started to heal those words:

wherever I'll fly, wherever I stand, in fact, I always come back to you. It's just, we'll never know, where do we stand.


I wish nothing but the best for you... :)







Monday, May 14, 2012

-

sepercik api jadi buai
segaris air melantun manja
terdiamku dalam kelam
termenungku atas remang

bersukasuka kita melangkah
selamat pagi kita bersua
selamat tidur kita terpisah
bagai tiada topang kepala
kita acuhkan kata mereka

kau dan aku melaju terlalu kencang
kita terlalu naif untuk bernaif dalam realita
kau dan aku terlalu senang pada andai
kita seperti terpuruk pada asa

ucapkan makna pada sebuah kata
maka arti adalah sebuah batas
sebut saja mereka merengkuh kita
sedang kita berlari bersama peluh

Sunday, May 6, 2012

Ampel Malam Ini

Malam ini saya baru pulang dari Ampel.
Ya. Ampel!
Mungkin terkesan 'kebangetan', lama tinggal di Kota Pahlawan ini, tapi gak pernah menjajaki daerah Kampung Arab, Ampel. Bukan tidak pernah, pernah, tapi dulu banget. Waktu saya masih kelas 6 SD. Sudah 10 tahun yang lalu. lama sekali. saya sudah hampir lupa.

Sedang sebal membaca buku yang meng-imingiming-i saya untuk pergi, seketika saya langsung pergi. Tanpa arah dan tujuan, siang tadi saya berkeliling kota Surabaya dengan mengendarai motor saya. Cuaca siang tadi mendung. Tapi saya tetap melaju.
Lelah di jalan, saya memutuskan untuk ke toko buku saja. Sudah memilih buku, perut saya lapar.
Saya memutuskan untuk kembali ke kost saya dulu, di ITS, hendak mengganggu temanteman yang sedang TA. hahaha...

Melihat mereka tidak sedang mengerjakan laporan, saya pikir saya ajak saja ke Ampel. Mereka menyambut bahagia. Saya pun tersenyum lebar. Dengan segera kami lajukan motor kami ke arah Surabaya Utara. Sebelum berangkat, temanteman meminjamkan saya jilbab dan memakaikannya. Tapi bukan berarti saya tidak bisa memakainya ya.. Tujuan menggunakan jilbab ini untuk menghormati budaya masyarakat Ampel yang kental dengan Islam, para wanita dianjurkan menggunakan Jilbab. Ada pula yang mengatakan, bagi para wanita yang tidak mengenakan jilbab, dilarang memasuki kawasan Makam Sunan Ampel. Tidak ingin mengambil resiko, saya memilih menggnakan jilbab yang ternyata membuat saya makin cantik! #eh


Friday, May 4, 2012

This Friday



"What a nice Friday! 
Just get your pain out, and let the tears fall down, so you can feel peaceful, girl! 
But don't forget, you are beautiful when you are smiling."





 Now Listening : Fergie - Big Girl Don't Cry

Thursday, April 26, 2012

Asmara Nusantara

Malam ini saya baru saja menemukan sebuah lagu yang begitu romantis..
entah mengapa bisa terasa begitu romantis..
tapi rasanya memang romantis di telinga saya!

Mari dengarkan ;)

berikut liriknya..

waktu itu kamu pakai baju merah
yang ku tahu aku pakai baju putih
kita bergandengan menyusuri kota
dan cinta kita seperti indonesia


walau kini kau ada di wakatobi
yang jelas-jelas aku di raja ampat
luasnya lautan memisahkan kita
oh indahnya bercinta di nusantara


kita sepakat bila rasa yang sesungguhnya
tak mudah didapat
perlu ada pengorbanan, perlu ada perjuangan
seperti pahlawan


kita tulis cerita yang takkan kita lupa
bersama di bawah langit senja
kita nyatakan saja pada mereka lewat sebuah lagu
asmara kau dan aku di bumi khatulistiwa


kita sepakat bila rasa yang sesungguhnya
tak mudah didapat
perlu ada pengorbanan, perlu ada perjuangan
seperti pahlawan


kita tulis cerita yang takkan kita lupa
bersama di bawah langit senja
kita nyatakan saja pada mereka dengan sebuah lagu

kita tulis cerita yang takkan kita lupa
bersama di bawah langit senja
dimana kita nyatakan saja pada mereka lewat sebuah lagu
asmara kau dan aku di bumi yang indah di khatulistiwa


lagu ini milik Budi Doremi. Judulnya Asmara Nusantara.
Entah kenapa si Budi selalu bisa membuat lirik yang sederhana, kreatif namun menyenangkan untuk didengarkan. meskipun pasti banyak dari mereka mengatakan Budi Doremi itu...bla...bla..bla...
Bagus itu obyektif. tergantung penilaian setiap orang.
Saya bilang Budi Doremi ini asyik! hehe


Wednesday, April 11, 2012

Manis!



"loh... kok yang ini sih?? yang lantai bawahnya.... bukan yang inii... coba aku liat... nah... yang itu..." sambil senyumsenyum. "Wah, kamu salah layout ya sayang? hahahaha.... bikin lagi deh dari awal....hahaha..."

Ah, si nyonya bos ini yaa.... kan kemarin Miss bilang study room... selalu tagih study room..bukan home office, maam.... Gosh!! Saya ngakak gak berhenti... Temanteman juga ngakak. Ini karena otak saya atau karena kebanyakan proyek yah?? Entahlah... tapi saya tertawa lepas sore ini.

Sepulang kerja, ponsel saya ber'tungtingtungting' ria.






  

 

what a great night!!

You also can find the magazine here


 "Local people is your lonely planet"

 :)

Sunday, April 8, 2012

Marah Teman Saya

Pernahkah kamu menerima kemarahan dari teman baikmu?
Saya pernah.. baru saja.. kemarin..
Dia marah, saya disindir olehnya. Marah semarahmarahnya.
Saya dibentakbentak olehnya. Saya diam saja.
Dia menyindir saya. Saya diam saja.
Menurut dia saya salah, menurut saya ini pilihan saya.
Tapi dia begitu marah.
Saya tidak pernah dimarahi teman saya seperti ini sebelumnya.
Hingga dia mengeluarkan ultimatum pada saya agar tidak berteman lagi, dan tidak berhubungan lagi.
Tentu saja saya tidak mau, saya tidak ingin kehilangan seorang teman satupun. Tapi saya diam saja. Saya biarkan dia berbicara apa maunya.
Saya meminta maaf padanya.
Saya mual, karena saya sedang sakit kemarin.
Dia berbicara marahmarah panjang lebar pada saya.
Saya diam saja. Bukan karena saya kalah, saya hanya mengalah.
Karena saya tahu dia sendiri sedang dalam masalah.
Saya biarkan dia berbicara.
Bila dia sudah diam, maka saya meminta kesempatan padanya untuk berbicara.
Sulit memang menghadapi teman saya yang cukup emosional ini.
Tapi saya senang, teman saya jadi beragam. :)
Saya jadi belajar banyak hal dari temanteman baik saya.
Ketika emosinya sudah reda, maka saya utarakan maksud dan tujuan saya.

Saya menyayangi teman baik saya ini. Saya juga menyayangi temanteman saya lainnya.
Saya tahu tujuan kemarahannya adalah demi kebaikan kami, memang waktunya tidak tepat menurut dia.
Hingga saat ini saya masih merasa kemarahan teman saya kemarin.
Betapa hebatnya dia marah, membentakbentak saya. Terbawa ke dalam pikiran saya.
"Kau begitu marah padaku, maka maafkan ulahku yang menurutmu aku salah, tapi ini adalah pilihanku, aku masih menghormatimu dan dia"

Ah..teman, jagalah dirimu baikbaik disana.
Bahagiakan dirimu itu. Dirimu itu baik, bila kau mau menyayangi dirimu sendiri.
Hidupmu terlalu indah bila kau lewati dengan pikiranpikiran burukmu itu.
Kemarilah, bila tak ada yang mau mendengarmu, aku siap mendengarmu.
Kau hanya perlu tersenyum dalam kelammu.
Kamarmu terlalu suram untuk kau tinggali dengan resahmu.
Bukalah jendela kamarmu, sambutlah pagimu dengan senyum ikhlasmu.
Langkahkan kakimu tanpa beban, carilah alam yang menurutmu itu indah.
Kau sedang merindukanNya. Tapi kau tak pernah tahu itu.

Doa terbaik dariku di sini untukmu di sana.
Semoga Allah memberikan hidayah untukmu.
Agar kau tahu bahwa kamu terlalu baik untuk mengalami yang buruk.
Karena kamu begitu berharga!

Saturday, April 7, 2012

workaholic?

Minggu pertama di tempat kerja baru... Shocked!
Tapi tidak boleh shock juga, karena pekerjaan ini sudah terasa sejak kuliah. Bedanya, saya masih bisa ulurulur deadline dengan dosen, tapi kali ini saya harus bertanggung jawab dengan komitmen deadline. Siapsiap aja dengerin si nyonya bos itu berkoarkoar besok senin. Yes!

Hari pertama kerja, such a great welcome party.. mm.... no, it's not a welcome party seperti jaman ospek kuliah dulu. Ini semacam seuprit surprise untuk si nyonya bos yang ultah sabtu kemarin. White clothes dan Blue jeans tema hari itu. Look! we just get in to the home! Teman saya yang seminggu lebih dulu kerja di situ memberi tahu saya dan sang induk semang (teman saya yg juga kerja di situ) untuk memakai dresscode. Party dan fotofoto pun sudah. Feeling saya rada gak enak inih.. beneran.. ada deadline hari itu juga. Touch your soul of american style, Lusy... Adem panas badan saya! Oke, baiklah... hari pertama saya mbleset 1,5 jam dari jadwal pulang kerja.

Hari kedua kerja, si nyonya bos sering panggil saya, "Lusyy...gimanaa?? udah??" saya adalah anak buah teman saya, dia bilang, "revisi girl bedroom, boy bedroom juga". ah! this is the sense of art to doing this job! seems like no time to smile, even to breath! No, I'm breath! hehe
kata teman saya, "kamu serius banget, gak ngguyu blas!" hahaha... mana sempat?? ini deadline... Sorenya, asyikkk... si nyonya bos berkoarr...rraawwrrr...
saya pilih pulang tepat waktu untuk inhale-exhale yaa...tapi...... bawa kerjaan pulang!! sama aja kalee... --"

Hari ketiga kerja, gak usah tanya lagi saya ngapain, jelas kerja donk!! lembur deh, pulang jam 10 malam. hahaha... but wait, si nyonya bos nan gaul ini traktir kami makan!! rencana makan malam di luar batal karena hujan deras. malam itu kantor masih ramai pada lembur. pesanan makan datang, kami makan setelah sekretaris si nyonya bos yang juga baru masuk itu menyisipkan doa semoga cepet dapat jodoh untuk si nyonya bos. Amin si nyonya bos paling kenceng! nah loh...?
sesi makan diakhiri dengan foto pose chibi, si nyonya bos ikutan pose sambil teriak, "gilaaa... aku dua sembilan tahuuuunnn..." hahahahaaaa right pose in the wrong moment.. gak apa, miss... awet muda...hehe

hari keempat kerja (this is the end of this week), lemburr lagii sampe jam 10.30 malam. sedihnya, saya ngerjain sendirian, teman saya harus meeting ke Kota Malang. Rasanya pingin ditendang ke langit terus di lempar ke laut, begitu tau teman saya yang baru pulang dari Malang jam 10 malam itu bilang kalo dia punya library of american style motives!! hell!! saya njengking seketika di depan dia!! dia tertawa... puaasss??? saya adem panas ngerjain itu american style yg bikin perut saya mual sejak hari kedua kerja sampe saya nulis tulisan ini.

wah...long weekend iniii.... si nyonya bos pergi ke Bali sejak kemarin Kamis, entah untuk apa? mungkin meeting.. mungkin meeting dengann....mmm.... hahahaha....
long weekend untuk saya?? ngantorr sendirian!! this is nice long weekend, huh? yes, it is! amin..

kemaren tanggal merah, jam 10 siang malasmalas saya semangat berangkat ngantor, bekal ransel isi laptop, kaos oblong, celana pendek, dan sendal gunung. Kata si mbak yang masakannya enak itu, "mbak, kowe koyok anak ilang ae klambian ngono.." saya ketawa saja, saya nyaman memakainya. :P

Ini mengingatkan saya di tahuntahun terakhir saya mengerjakan proyek Tugas Akhir Kuliah dulu. Setiap hari berhadapan dengan laptop saya, pagi siang malam hingga pagi lagi. Muka saya tidak pernah terlihat berseri, selalu lecek. Ketika penat berkunjung, saya telpon bapak atau ibuk di rumah sekedar untuk minta didengar saja tangis saya. Ah, saya masih manja. Semangat dari temanteman dan sahabatsahabat saya juga tidak pernah putus.

Beberapa kali saya ditegur oleh kerabat dekat saya, "dek, kamu ini workaholic banget...istirahat dek..." ini bukan workaholic...ini kewajiban...hahaha

Lalu semalam, saya bertukar pesan dengan sahabat pena saya dari seberang pulau jauh sana. kata dia, "gilaaaaaa...... kamu workaholic, lus!!" hahahaa.... saya jadi tak asing lagi dengan sebutan itu... banyak sekali yang menyebut saya seperti itu, saya senyumsenyum saja. Kata sahabat saya dulu, "wes noonn...ojo tugas teruuss...ndang golek pacarr..." hahahaha....gemes deh pingin cubit pipinya sampe dowerr... :D

all the things that I learned is, This is your choice, this is what you want. So just enjoy your risk, because you will enjoy the results later. And I smile for these things... :)


sayangnya tidak ada kiriman es krim vinetta secara tibatiba seperti jaman kuliah Riset dulu... *blushing*


Wednesday, March 21, 2012

The Beginning


Good things come to those wait, but better things come to those who are patient… - Viera


Kabar baik ini datangnya dari kata 'sabar'. Meskipun dilema meng-ekor, tapi adanya kesempatan yang baik itu diberikan Allah untuk merubah takdir kita. Semuanya sudah suratanNya. Syukur yang tidak habishabis untukNya. Sekarang tinggal saya saja bagaimana mempertahankannya.

Dilema ini memang konyol, kelihatannya. Ketika saya sudah memutuskan sesuatu, nyatanya ada pilihan lain di depan mata. Dan pilihan ini 'nyata' adanya. Sudah pasti untuk saya namun saya masih men-dilema-kannya. Hahaha... Semuanya itu simple, hanya mindset kita saja yang membuatnya jadi nggak simple... *tsah*
Kata teman baik saya, ''everything happens for a good reason''. Jadi, memang Sang Kuasa lah yang merencanakan semuanya, dan tidak ada cela atau alasan buruk apapun dariNya. Well, memang benar adanya, victory need sacrifice. Dan dari sinilah semuanya akan di mulai, insyaAllah...

Oke. Kita lihat, seperti apa nanti kantor baru saya, dan saya harus bisa bertahan hingga 2 tahun kedepan... :)

Wednesday, March 7, 2012

Menang dari Diri Sendiri

Pulang kerja tadi saya merasa jenuh. Ya, j-e-n-u-h. Bosan tiada terkira. Berbicara dengan seorang teman mungkin mengobati perasaan saya. Ternyata tidak. Makan es krim kesukaan, ternyata juga tidak. Hingga akhirnya saya melihat sebuah tulisan yang membuat saya tersenyum kecut. Tulisan dari sebuah blog yang saya ikuti. Saya posting ulang disini ya...

***

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya.


Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji "Superman cilik" di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.


Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar.


Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.


Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing.


Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.


Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main.


Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.


Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.


Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti.


Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.


Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami.


Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah "Humor anak-anak" dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali.


Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya. Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.


Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.


Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.


Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing.


Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga. Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar.


Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku. Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris.


Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu. Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan.


Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.


Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini.


Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.


Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik.


Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

***

Seharusnya saya tahu apa yang saya mau, lalu apa yang lebih baik saya lakukan. Karena ternyata memikirkannya saja itu tidak berguna. Lebih baik melakukan sesuatu. Yang sesuai dengan diinginkan lah minimal... Teman baik saya bilang, "setidaknya apa yang sudah kamu lakukan itu tidak siasia." Maka setidaknya bisa membuat saya tersenyum. Karena nyatanya bagi saya, "kemenangan adalah ketika kita berhasil melawan ketakutan dan kekhawatiran-kekhawatiran kita sendiri." Saya pernah memenangkannya, saat ini saya sedang kalah, dan harus memenangkannya lagi.