Wednesday, March 21, 2012

The Beginning


Good things come to those wait, but better things come to those who are patient… - Viera


Kabar baik ini datangnya dari kata 'sabar'. Meskipun dilema meng-ekor, tapi adanya kesempatan yang baik itu diberikan Allah untuk merubah takdir kita. Semuanya sudah suratanNya. Syukur yang tidak habishabis untukNya. Sekarang tinggal saya saja bagaimana mempertahankannya.

Dilema ini memang konyol, kelihatannya. Ketika saya sudah memutuskan sesuatu, nyatanya ada pilihan lain di depan mata. Dan pilihan ini 'nyata' adanya. Sudah pasti untuk saya namun saya masih men-dilema-kannya. Hahaha... Semuanya itu simple, hanya mindset kita saja yang membuatnya jadi nggak simple... *tsah*
Kata teman baik saya, ''everything happens for a good reason''. Jadi, memang Sang Kuasa lah yang merencanakan semuanya, dan tidak ada cela atau alasan buruk apapun dariNya. Well, memang benar adanya, victory need sacrifice. Dan dari sinilah semuanya akan di mulai, insyaAllah...

Oke. Kita lihat, seperti apa nanti kantor baru saya, dan saya harus bisa bertahan hingga 2 tahun kedepan... :)

Wednesday, March 7, 2012

Menang dari Diri Sendiri

Pulang kerja tadi saya merasa jenuh. Ya, j-e-n-u-h. Bosan tiada terkira. Berbicara dengan seorang teman mungkin mengobati perasaan saya. Ternyata tidak. Makan es krim kesukaan, ternyata juga tidak. Hingga akhirnya saya melihat sebuah tulisan yang membuat saya tersenyum kecut. Tulisan dari sebuah blog yang saya ikuti. Saya posting ulang disini ya...

***

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas menengah yang sesungguhnya.


Sebagai orangtua, kami merasa nama panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya, setiap orang selalu memuji-muji "Superman cilik" di rumah masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.


Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol, juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu, setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya bersinar-sinar.


Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa. Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa tertahankan tertawa sendiri.


Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran. Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak masing-masing.


Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.


Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh: Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main.


Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian, kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi canggung sekali.


Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya, kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya, kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.


Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan dikerjakan tanpa henti.


Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat. Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru. Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau menangis, tetap saja nomor 23.


Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian, dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang mengejutkan kami.


Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah "Humor anak-anak" dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram kembali.


Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya. Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan karya seni pendek.


Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan seorang pengurus rumah tangga cilik.


Ketika makan terjadi satu kejadian di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris. Kedua anak ini secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya. Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.


Ketika pulang, jalanan macat dan anak-anak mulai terlihat gelisah. Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio masing-masing.


Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih, tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga. Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku. Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun mengajar.


Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku, semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku. Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak ditulis adalah optimis dan humoris.


Wali kelasnya mengatakan banyak usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu. Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan.


Anakku yang sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pelan-pelan melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan mengamatinya dengan seksama.


Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang tidak ingin menjadi pahlawan ini.


Di dunia ini ada berapa banyak orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat, jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati, mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik hati dan jujur.


Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik.


Apalagi dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

***

Seharusnya saya tahu apa yang saya mau, lalu apa yang lebih baik saya lakukan. Karena ternyata memikirkannya saja itu tidak berguna. Lebih baik melakukan sesuatu. Yang sesuai dengan diinginkan lah minimal... Teman baik saya bilang, "setidaknya apa yang sudah kamu lakukan itu tidak siasia." Maka setidaknya bisa membuat saya tersenyum. Karena nyatanya bagi saya, "kemenangan adalah ketika kita berhasil melawan ketakutan dan kekhawatiran-kekhawatiran kita sendiri." Saya pernah memenangkannya, saat ini saya sedang kalah, dan harus memenangkannya lagi.

Saturday, February 25, 2012

Secangkir Kopi [senyum] Hangat




Tiga hari saya seperti underpressure. malam pertama, saya masih dibawah kontrol. Malam kedua, saya menangis sejadinya. Saya kira itu normal. Malam ketiga, saya lajukan motor saya dengan kecepatan... tidak usah disebutkan, menyanyi kencang dengan iringan dentuman musik dibalik earphone saya. Tiba di rumah, saya tersenyum lepas. Tuhan itu Maha Adil memang. Lelah saya terobati melihat sebungkus Kopi Bandrek asli Bandung, oleholeh dari sahabat tersayang membuat senyum saya kembali. Tanpa pikir panjang, saya menyeduhnya bersama Bapak dan Kakak saya. Kami bertiga memang penyuka kopi.

Kopi Bandrek hangat dari sahabat tersayang diseduh dalam cangkir tua milik embah bersama keluarga di rumah. Rasa kopi yang berpadu dengan aroma rempahrempah yang cukup kental, masih terdapat sedikit ampas rempahrempah yang menambah harum aroma rempahnya. Menghangatkan tubuh, melepaskan senyum! Mungkin hangatnya lebih pas ketika diseduh saat hujan ya.. hehehe...




Terima Kasih, Sahabat... :)



Monday, February 6, 2012

aku adalah aku

aku ingin seperti burung..
agar aku bisa membawamu terbang kemanapun
aku ingin seperti mentari
agar aku dapat menyinari setiap langkahmu
aku ingin seperti bulan
agar aku bisa menemanimu di kelamnya malam
aku ingin seperti embun pagi
agar aku dapat menyegarkan lengan jiwamu
aku ingin seperti batu karang
agar aku dapat melindungimu dari ganasnya kehidupan
aku ingin seperti selimut
agar aku dapat menghangatkanmu setiap saat
aku ingin seperti seorang pujangga
agar aku dapat membuat syair yang indah untukmu
tapi... aku lelah....aku ingin menjadi diriku sendiri
agar aku dapat mencintaimu sepenuh hati


___________________________

saya senyumsenyum sendiri baca tulisan ini. entah darimana saya bisa menulis katakata seperti itu. tidak tersemat tanggalnya disana. tapi saya ingat, saya sedang apa saat itu.
anyway, saya memang sedang bukabuka diary saya. ternyata banyak banget tulisan disana. hahaha
cinta.. saya masih belum tahu apa itu cinta. tapi saya lebih tak tahu lagi, kenapa ada cinta disana.
tapi ini bentuk penghargaan atas diri saya selama ini. itu saja. tidak lebih. :)

Sosok itu

Meskipun hati ini tak bersua
Meskipun langkah ini tak tertuju
Meskipun mata ini tak bertatap
Meskipun mulut ini tak berkata
Namun gundah ini tak akan pernah sirna

Meskipun kata ini tak tertulis
Meskipun detik t'lah berubah menjadi tahun
Meskipun raga ini membisu
Namun, kharismanya selalu datang mengingatkanku

Seiring dengan mentari pagi
Sehangat belaian samudera
Sewangi mawar berduri
Sekedip mata menyanyi
Sesongsong fajar menjemput
Sepejam mata terjemput mimpi
Setiap detik berjalan
dan
Setiap helai nafasku berhembus...
Sosoknya tak akan pernah pergi kemanapun dari sudut hati...




280707/17.11



Ah, apa kabar kau disana? semoga baikbaik saja. Kamu benarbenar sebuah pelajaran untukku. Karena darimulah aku memulai semuanya, dan darimulah aku mendapatkan pesan yang sangat berharga. Ku harap kau menjadi seseorang yang bermanfaat bagi kedua orang tuamu. Berhentilah kebutkebutan, aku juga sudah berhenti. Berhentilah mematamatai, aku juga sudah berhenti. Berhatihatilah di jalan, aku pun sedang berusaha. Jadilah anak baikbaik. Mandirilah. Karena kau pria. Semoga Tuhan selalu melindungimu. :)

Thursday, February 2, 2012

"victory need sacrifice"


........

"....mauny gak cpt2 ***... tp emak dan bapak ingin melihatku selese kuliah... pdhl mreka tak tahu kegalauanku... T_T"

".... ya org tua mana yg g pngn lyt anakny d wisuda, lbh cpt lbh baik kata mereka...
Setelah ngeliat ankny d wisuda, ortu mana yg g pngn lyt anaknya married... :P ..."

"... Waduh,ortumu pgn liat km merit ta ***??
Pere single tu agak sensi ngomongin yg merit2 gt.. #eaaa #curcol"

"... No way, rarely happen to boys, mostly to girls.. i know its going to be sensitive, thats why i mentioned it.. hehe"

"... yeah.. experience that can make me so stress!! Hahaha
he, resek! mau membangunkan macan tidur yah?? #halah
it feel so sick when daddy permit me to hiking as long as i'm go with my boy. And no one there.. hahaha
So, who is yours, ***? :D "

"Experience always cost something, though.. that phrase is the lil' bro of "victory need sacrifice" phrase..
In my case, it mean spent more than 4yrs in bachelor degree.. :-P (find an excuse..)
ahahaha.. no im not, but ur dad already did, he woke up the tiger. haha..
Plus, u got no time to go hiking now :-D
im a free man, n always be, haha..
at least till i get bored of it..
(kind a selfish n dumb)"

"syit.. hahahaha lol
look, holiday in a middle of a busy day gonna be something special, cuz we struggle to got it! Hehe #defending
i am a free woman, and you'll see! :P
#findanotherjob :D"

"When it gonna happen? or it just imaginary holiday?
Well, im always in the same place tryin to see
dunno girl, seems we both miss something..
U miss ur holiday..
May i know ur workplace's address?"

"No. It kind a decision, an appreciation, an enjoyment. Haha
yes. see and you'll feel it later
Yes.. I miss my holiday.. and u miss me.. looking for my workplace's address to find me.. ahahahaa :P
just kidding boy.."

"enjoyment.. haha, guess it'll come later
ya.. ya.. ya.. kurang lebihlah, mau kasih ga?"

"... Kurang lebih? lebih jg gapapa kok.. hahaha :P ...."

"lebih wez..
...."

........


30122011

Wednesday, February 1, 2012

Uang dan Rumah

Nyut..nyuuutt... begitu rasanya kepala saya siang ini. Siang ini mau tidak mau saya harus menghitung uang kas. Menghitung uang adalah hal yang paling saya tidak suka. Mmm, selain tidak suka, saya juga tidak berani. Tidak suka bukan berarti benci. Tidak suka, itu saja. Tapi bukan pula berarti saya tidak mau menghitung keuangan di rumah tangga saya nantinya, tapi menghitung keuangan yang ini memang benarbenar bukan keahlian saya.

Selisih duapuluhenamribu! Kepala saya nyutnyutan seketika. Periksa lagi, lagi, lagi, lagi dan lagi. Butuh 5 jam bagi saya untuk memeriksanya kembali. Seperti ada pencerahan, karena ada perubahan. Selisih mengalami perubahan. Dan jeng jeng jeng jeeeeennngggg...... selisih menjadi enampuluhsaturiburupiah!! Gila! Saya seperti orang kesetanan. Stres seketika. Ingin teriak, tapi percuma. Akutansi bukan dunia saya!

Pencerahan datang dari teman saya. Teman seperjuangan di kampus. Tapi dia paham akutansi. Baguslah. Saya akhirnya bisa kembali tersenyum bak orang gila seperti biasanya. Butuh waktu 30menit bagi saya untuk menghilangkan nyutnyutan di kepala saya.

Kabar 'baik' tiba. Tanpa tedeng alingaling, dengan senyum polos, melalui seberang telpon, request lembur pun datang. Oke, baiklah. Dan saya benarbenar gila seperti biasanya.

Ini hasil karya saya hari ini. Penggabungan dari memori permainan masa anakanak dengan keterbatasan imajinasi visual yang mulai berkarat dalam pena 3warna, plus saya sedang gila.


Semasa saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar, kakak saya mengajarkan saya membuat rumahrumahan dari selembar kertas origami dibantu cutter dan lem. Kurang lebih seperti ini. Tapi tentu tidak seramai ini 'dekorasi' nya. Tibatiba saja saya tadi ingin mengulang membuatnya. Saya tersenyum dan tertawa. Gila seperti biasanya. Begitu kata teman baik saya. :)


Oh, February.. Be nice to me, please...


 

Saturday, January 28, 2012

Hitam milik saya



Tibatiba saja tampilan blog saya berubah. Dari warna hitam pekat menjadi sangat berwarna seperti ini. Bukan karena imingiming atau sejenisnya, tapi lebih kepada bosan saja. Bosan itu saja. Bosan. Hitam, ada berbagai makna yang tersembunyi di balik warna hitam. Hitam itu bukan warna. Tapi banyak orang menyebutkan hitam itu warna.


Menurut Kobayashi, pada imageboard nya yang terkenal, sifat warna di bagi menjadi 4 kutub. Soft, warm, hard, dan cool. Warna hitam termasuk dalam kutub Hard dan sebagian pada kutub warm dan cool. Di setiap kutubnya memiliki berbagai macam sifat warna yang memberikan kesan masingmasing dari yang ditimbulkan. Kesan yang ditimbulkan pada warna makanan, warna pakaian, komposisi warna dalam lukisan maupun fotografi, komposisi warna dalam interior, dan sebagainya dan sebagainya.

Color chart - Kobayashi (1996)


Bila dilihat dari colorchart di atas, warna hitam memiliki sifat gorgeous, dynamic, provocative, vibrant, luxurious, wild, masculine, sharp, straight, formal, modern bahkan chic. Namun, sebagian orang menilai bahwa warna hitam memberikan kesan gelap, kusam, kelam, gothic, bahkan emo. Menurut saya, warna hitam itu misterius, karena ia dapat memberikan banyak makna di berbagai kondisi. Seperti pada desain interior, warna hitam memberikan kesan netral, minimalis, elegan, luxurious, anggun, dan juga formal. Kemudian secara dinamis, warna hitam bisa bersatu dengan warna apapun dan ia akan memiliki kesan dan makna yang berbedabeda di setiap perpaduannya.

 Hitam. Ya saya penyuka warna hitam. Saya pikir temanteman saya sudah banyak tahu itu. Namun bukan berarti hidup saya hitam, kelam, kusam, gothic, emo. Tunggu. Gothic merupakan karakter style arsitektur yang cukup terkenal pada masa Renaissance sebelum style Classic berjaya. Entah bagaimana mulanya, nama gothic bisa menjadi style fashion dalam make-up. Warna gothic dalam arsitektur  selain hitam juga ada abuabu dan krem, ngeblok, seperti itulah kurang lebih. Kemudian Emo. Saya juga masih bingung darimana kata emo ini muncul. Ada yang bilang Emo merupakan kependekan dari kata EMOsional dan banyak remaja masa kini menggunakan kata EMO sebagai style fashion mereka. Entahlah. Baiklah kembali lagi. Saya penyuka warna hitam dalam halhal tertentu. Nyatanya saya cenderung memilih warnawarna "warm" dengan karakter casual, dynamic, flamboyant, bahkan warna etnik dalam desain interior dan fashion daripada minimalis atau modern.

Style Gothic pada arsitektur dan interior

rame kan? warnawarni!! :D


Teman saya pernah gemes melihat saya selalu memilih warna hitam dalam sebuah pilihan. Lalu suatu ketika saya beralih memilih warna cokelat ketika saya memilih suatu barang bersama dia. "Tumben cokelat? Biasanya hitam", begitu katanya. "Yah, lebih mending lah ada warnanya daripada hitam terus. Tapi tetep, lempenglempeng aja." Hahaha.. baiklah...
Bukan berarti saya penyuka hitam lalu semuanya serba hitam atau cokelat lalu semuanya serba cokelat. Tidak. Dalam hal tertentu saya memilih warnawarna tersebut. Warna tersebut netral. Lalu bisa saya padupadankan dengan warnawarna lain yang berwarnawarni. Itu maksud saya.

Warna blog saya yang lalu berwarna hitam itu juga bukan berarti saya kelam, misterius, kusam, galau (istilah ini benarbenar musim saat ini), suram. Saya hanya sedang bosan saja dengan warna hitam. Kata penikmat desain dan seni, karya visual bila diletakkan/dimonting dengan frame warna hitam, bisa memberikan efek dramatis. Mungkin beberapa sependapat, mungkin beberapa yang lainnya tidak. Tapi saya sependapat. Setiap karya saya bila di frame berwarna hitam berasa dramatis (apalagi kalo dosen saya memberi nilai A+, begitu amat sangat dramatis! Hahahaha). Jangan bicara soal nilai dalam karya seni. Semuanya subjektif! Tidak ada bagus tidak ada jelek. Tergantung mata memandang.

Jadi, kalau blog saya berwarna hitam, bukan berarti saya kelam. Blog boleh hitam, tapi hidup tetap berwarna. Rasarasanya warna ini hanya sementara. Saya agak sakit mata melihatnya. Tapi konyol memang, saya suka saja. So, selamat menikmati warna kesukaanmu.. :)


Friday, January 27, 2012

Omong Kosong

Bukan.. Bukan tentang cerita cinta. Saya belum pernah menemukan cinta. Yang saya tahu tidak ada cinta di dunia ini, selain cinta padaNya.

Suatu ketika saya sedang mengerjakan suatu pekerjaan, tibatiba rasa bosan datang menggerogoti otak saya. Ya, tibatiba saja. Rasa bosan yang tibatiba datang ketika saya sedang serius itu menyebalkan. Selalu mengganggu harihari indah saya. Agar hari indah itu kembali, saya memilih untuk memikirkan yang indahindah saja. Atau saya memilih tertawa.

Memikirkan yang indahindah itu bermacammacam. Lalu saya memilih memulai dengan intipintip blog temanteman untuk dibaca. Tentu baca blog teman ketika bapak menejer yg terhormat tidak ada di tempat. Makan gaji buta? Katakan saja ya, lalu Anda juga akan mencari kesempatan yang sama ketika merasakan yang saya alami. Kembali lagi. Ketika blog itu terasa menyesakkan perasaan saya, saya memilih intip blog yang lainnya. Banyak peer untuk menikmati blogblog yang menampilkan videovideo gila! Gila aja, video dibikin dari ribuan foto selama sejam. Saya lebih memilih melanjutkan perjalanan, mungkin. Tapi hasil videonya begitu ciamik! Cukup membuat saya iri karena tidak mempunyai kemampuan seperti itu. Ah, jadi merindukan jalanjalan.

Ya, akhirnya pikiran saya beralih merencanakan perjalanan yang selanjutnya. Merencanakan itu menggunakan pikiran. Pikiran itu menggunakan perkiraan juga. Itu berarti saya berkhayal. Seperti yang sudahsudah, saya hanya berkhayal. Karena pada kenyataannya, saya harus menahan niat saya untuk berjalanjalan. Sedih memang, tapi masih ada kewajiban yang harus saya kerjakan.

Saya ingat suasana rumah yang kacaubalau. Sudah 3 bulan. Manis di luar, asam di dalam. Tidak, ini bukan tentang lagu pop 90an -madu dan racun. Ah, menata rumah itu butuh berpikir dan banyak perhitungan, berpikir itu tidak untuk kepentingan sendiri, tapi banyak pihak, penghuni rumah lainnya. Mungkin saya sudah penat, hingga sesekali saya memilih mendengarkan musik, ato menulis, ato bahkan menggambar sambil menahan diri untuk tidak mencari pensil warna.

Menggambar itu butuh kreativitas. Ah, terlalu berat bila membahas kreativitas. Berat karena kreativitas saya seperti di belenggu. Saya sendiri hampir mati kutu berhadapan dengan excel, tidak tahu apaapa, sedangkan saya lebih berminat menarik garis atau menggoreskan cat air meskipun tidak ahli. Ideide segar itu diperlukan untuk keberlangsungan kesehatan otak saya.

Menggambar, menulis, menari, merajut, dll utk mengisi waktu saya. Mmm, otak saya yang mulai berkarat. Berkarat memikirkan banyak hal. Berpikir saja, tidak ada yang dijalankan, itu semacam omong kosong, kata bule, "Bullshit". Memang butuh proses, tapi nyatanya yang tau kemajuan proses itu hanya diri saya. Jadi rindu masamasa kuliah yang tidak pernah berhenti mengerjakan tugas. Sampah serapah bermunculan dari mulut. Namanya sumpah serapah tak seindah lagu Farid Harja, "ooouwoooo aku rindu...katakan padanya, aku rinduu... Oh, buruung.. nyanyikanlah....katakan padanya aku rinduuu..."

Bicara rindu, rindu itu saya pernah ingin sampaikan pada sesorang. Tapi saya urungkan. Niat saya memberikannya syal hangat agar bisa menemani menghangatkan tubuhnya ketika di perjalanan juga saya urungkan. Pikiran saya pendek, sependek poni rambut saya yang membuat muka saya terlihat aneh -padahal sudah adanya begitu memang aneh- seperti kuku jari manis kiri saya yang lebih pendek dari jari manis kanan. Rindu ini lebih pantas saya sampaikan pada yang layak mendapatkannya. Tapi bukan anak tante 'macam itu' yang berniat mengajak ibu saya menjadi besan. Lebih padanya yang mau menemani saya menumpahkan ide gila saya. Maaf tante, saya yakin tante tau saya sedang menulis apa.

Saya pernah punya ide gila ketika musim FIFA World Cup 2010, musim lagu Wafin Flag. Lukis wajah kami, lalu kami akan meneriakkan Wavin Flag di perempatan kota. Berlari dan mengibarkan bendera kedamaian, kami kibarkan juga semangat keadilan. Halah! Yah, memang ide gila yang terlaksana di khayalan saja, tapi saya masih penasaran rasanya mengamen di taman kota. Atau mungkin kembali menari melakukan pacakgulu. Hahaha, terlalu banyak yang ada di khayalan saya. Saya rasa itu wajar, karena to be different is to be out of the box. Dan to be different saya ini baru sebatas khayalan saja. To be out of the box? Yah, saya memang beruntung, Tuhan memberi saya otak yang bisa gila dan bisa normal. Jadi saya tidak perlu melankolis terhadap benangbenang rajut untuk syal yang tak bertuan itu. Masih banyak hal yg bisa saya lakukan selain jalanjalan. Jalanjalan menjelajahi blog nya. Ah, itu nyesek, bodoh! Pikirkanlah yang indahindah. Yang indah hanya satu ternyata, Indonesia itu indah. Dan 'kamu' jg indah. Hahaha

Baiklah sobat, saya belum memerlukan pendamping untuk kukatai bahwa kau indah. Belum perlu pendamping untuk to be different. Dan untuk 'kamu', tidak perlu bersusahsusah menyelami hati saya, saya masih brengsek. Seperti saya yang laulalu, saya masih congkak. Biarlah. Biarkan saja mereka bermainmain dengan otak saya. Tapi mereka tidak perlu bersusahsusah mengintimidasi saya. Seperti rumah saya yang kacaubalau. Tenang saja. Dan biarkan ''look at my BRAin, not my BRA'' itu muncul. Terkesan seronok memang. Tapi katakata itu muncul begitu saja. Ternyata pikiran saya sedang bermainmain mengintimidasi pikiran saya sendiri. Ya, seperti kata "ada PENDEK dalam PENDEKatan, lalu untuk apa berlamalama?" Hahaha gak nyambung memang. Tapi nyatanya saya menikmati masa itu, bodoh? Ya begitulah adanya. Bukan bodoh, tapi terlalu polos. Ah, saya bukan perempuan lugu, bukan LUcu-GUoblok tentunya. Saya kadang terlalu dewasa, mendewakan sesuatu yang tidak perlu. Saya memang polos? Saya sudah dewasa? pikirkan saja lagi.

Seperti saat ini, yang tidak perlu itu nyatanya selalu eksis, "penting gak penting yang penting penting penting banget", lalu saya sadar, saya ini menulis apaan...

Tuesday, January 24, 2012

"thousand reason to stay"




Kepadanya-lah Rindu itu kusampaikan
Kepadanya-lah senyum ini kupersembahkan







Kepadamu yang sedang berjuang di negeri Renaissance lahir,
masih ada sejuta peluk hangat untukmu di sini
Aku yang akan menjemputmu
atau kau yang akan pulang
Mimpi kita yang dulu masih menunggu untuk dijamah






Masih tersisa jutaan rindu di sini
untukmu semua.. yang ada di Tanah Pertiwi...






*sedang memutar : mocca - on the night like this*