Sunday, September 16, 2012

Trauma (?)


Siang itu saya berdiam diri tiduran di kamar. Diam saja. Tidak melakukan apapun. Saya tidak bernafsu makan, tidak bernafsu menonton tivi, membaca buku, online, menggambar atau apapun yang saya sukai. Saya mengingat sekelebat kejadian di detikdetik terkahir sebelum saya resign dari kantor gila itu. Lalu saya flash back perkataanperkataan bijak bapak dosen saya yang menjadi salah satu masukan untuk saya bertahan sementara di kantor itu. Lalu saya teringat kejadiankejadian lain yang membuat saya muak dengan Si Nyonya Bos yang menurut saya, temanteman dan juga para pendengar cerita saya adalah psycho. Ya, sejenis sakit jiwa. Dan saya teringat akan janji saya dan seorang teman baik di kantor saya untuk jadi lebih baik dan tidak melakukan hal yang sama di kantor berikutnya dan di tempat kerja manapun.

Saya ingat malam itu saya tak bisa tidur garagara kopi hangat pemberian teman kantor saya di depan minimarket tengah malam itu. Memikirkan keputusan dan segala resiko yang akan terjadi dan efeknya terhadap temanteman baik saya di kantor gila itu. Lalu saya tersentak, “ah, ngapain mikirin yang sudah terjadi? Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Hidup saya sekarang adalah pilihan saya. Resikonya saya yang terima, saya juga yang jalani. Lebih baik saya memikirkan masa depan saya saja.” Tapi ternyata, saya hanya diam saja dan tidak ada perubahan sedikit pun dalam hidup saya. Tidak mencari kerja lagi ataupun tidak melakukan apapun yang dapat menghasilkan untuk masa depan saya.

Saya benarbenar merenung siang itu. Apa yang saya inginkan? Mau seperti apa hidup saya nantinya?? Saya tidak bisa tinggal diam menunggu pangeran kaya raya untuk menopang hidup saya. Saya tidak bisa terusterusan bergelayutan di tangan orangtua saya. Saya harus bekerja. Tapi sisi lain diri saya tidak ingin bekerja ikut orang lagi. Ada apa dengan saya ini?? Kenapa saya tidak bergerak sedikitpun dari tempat nyaman saya?? Lalu kemana passion saya?? Hobi saya? Entahlah harus saya apakan mereka. Saya ini kenapa?? Lalu entah dari mana tibatiba muncul kata ‘trauma’ di pikiran saya.



Kata teman baik saya, bisa jadi saya trauma karena hal yang sudah saya alami di kantor gila itu. Sehingga menimbulkan ketakutanketakutan tertentu yang membuat saya tidak ingin merasakan hal yang sama seperti sebelumnya. Saya bisa mencari kerja lagi, karena di luar sana banyak pekerjaan yang lebih baik menunggu saya. Meskipun tidak meutup kemungkinan akan terjadi hal yang sama seperti sebelumnya atau bahkan mungkin lebih parah dari sebelumnya. Meskipun ada kemungkinan saya akan mendapatkan yang lebih baik dari sebelumnya. Semuanya perlu dicoba agar saya tahu. Namun, begitulah jalannya hidup. Segala keputusan ada di tangan kita, dan setiap pilihan tidak pernah tidak di-ekor-i resiko. Apapun itu pilihannya.

Seminggu kemudian saya menemui teman karib saya, kami saling sharing. Dan ternyata kami sedang memikirkan hal yang sama. Bahwa kami belum ingin kerja ikut orang lagi dan mungkin sedang mengalami trauma. Lalu kami saling memberi support untuk keberlangsungan hidup kami selanjutnya. Tapi kami juga berpikir, apakah benar kami sedang trauma? hahaha

2 minggu kemudian saya chatting dengan teman kantor saya yang baik dan ceria itu di whatsapp. Saat itu dia sedang mengalami masa labil dalam hidupnya. Memikirkan sesuatu yang tidak tahu apa yang sedang dia pikirkan. Saya sangat pernah mengalami masa itu. Lalu dia mengatakan dengan gamblangnya, “aku trauma, Lusy... aku trauma.. aku belum pingin kerja ikut orang lagi... tapi aku sudah ingin melakukan kesibukan lagiii....” begitu katanya diikuti emoticon sedih. “Hahaha...kamu sih masih bagus udah sadar kalo kamu trauma, lha aku? Aku sama B(nama teman karib saya) aja masih gak percaya kalo kita trauma.” “gila ya tuh orang. Bikin trauma banyak orang! Si C(nama teman kantor saya yang lainnya) aja masih truma loh sampe sekarang.. mangkanya dia gak mau kerja ikut orang, dia memilih kerja bikin sendiri.”
Begitu kurang lebih percakapan saya dengan teman saya.

Beberapa hari yang lalu saya dan teman karib saya pergi ke salah satu restoran fastfood di Surabaya Barat untuk bertemu dengan temanteman yang lainnya. Tak disangka kami bertemu dengan kakak kelas kami di kampus dan temannya yang juga pernah bekerja di tempat kami bekerja kemarin. Jadi ketika saya dan teman karib saya dan seorang teman lagi masuk di kantor gila itu, mbak ini keluar dan posisinya digantikan oleh kami. Kami pun bercerita setelah mereka selesai bertemu dengan klien. Diakhir pembicaraan, mbak itu pun mengatakan, “aku trauma, mangkane gak ndang golek kerjo maneh.. gak pengen melu wong disik.” Hah! Mbak ini yang udah 6 bulan lalu resign saja masih trauma...??? gila!!!

Tuhan, manusia macam apa yang kau kirimkan pada kami hingga membuat kami trauma berbulanbulan karena perlakuannya pada kami... saya tahu Kuasa-Mu, Tuhan.. kau lah yang akan menghanyutkan manusia macam dia dengan kenyamanankenyamanan yang Kau berikan, semakin dia terhanyut, semakin dia besar kepala, semakin dia lupa pula akan Kuasa-Mu. Maka seperti itulah cobaannya hingga Kau merasa sudah tiba saatnya Kau mencabut semua kemampuannya dan dia merasakan kejatuhan yang setimpal atas segala perlakuannya kepada kami yang pernah teraniaya lahir dan batin. Kami tidak bisa berbuat apapun selain Kuasa-Mu. Kami akan merasa cukup melihat sandiawara ciptaan-Mu yang nantinya akan Kau pertontonkan kepada kami melalui media. Dan semoga dengan adanya pemberitaan mengenai dia dan apa yang telah kami alami, supaya menjadi pelajaran yang berharga bagi hidup kami selanjutnya. Dan membuat kami semakin bijak dalam mengambil keputusan dan menjalaninya. Tuhan, bila kau menyayanginya, tegurlah dia secepatnya. Jangan kau biarkan dia berlarutlarut dengan kesombongannya.

Saya masih trauma hingga saya menulis tulisan ini. Tapi saya dan teman karib saya sudah mulai move on. Trying to move fast mungkin lebih tepatnya. Demi keberlangsungan hidup kami.

Bolehlah kita merasa sakit hati hingga lama, tapi jangan berlarutlarut terperangkap pada pikiran buruk. Segera bangkit! Karena waktu tidak pernah berhenti. Dan jangan mau dikalahkan oleh waktu. Kitalah yang mengendalikan waktu, bukan waktu yang mengendalikan kita. Bila orang lain mengatakan kita stuck, padahal kita tak diam, jangan pedulikan. Ada yang lebih tahu apa yang kita lakukan. Pada akhirnya, waktu juga yang akan menjawabnya. Perkataan buruk mereka, jadikan motivasi untuk jadi lebih baik. Karena masih banyak kesempatan untuk kita untuk jadi lebih baik. Tuhan lah yang akan membayar semua jerih payah kita. Hasil yang baik adalah sebuah bonus dari kehidupan kita yang baik juga.
Ingat saja, pilihan ada di tangan kita jangan pernah takut untuk memilih karena resiko yang ada. Setiap pilihan selalu ada resikonya. Begitulah cara hidup itu bekerja. Setiap jalan yang kita pilih tidak ada yang lurus, baik buruknya pilihan itu, selalu berliku jalannya. So, welcome to the real life! But don’t forget to keep smile for those good and bad thing in your life. That’s the thing to learn for.. :)

2 comments:

tyzha said...

hah lus?kerja di mana?kok serem banget bisa kayak gitu..emang bosnya galak atao gimana?

aloysia said...

hhahahaa..ada deh tyzh...gak etis ah kalo aku kasih tau disini...hehehe